Beberapa teman saat
ini mungkin tidak pernah tahu seperti apa saya ketika beberapa tahun
kebelakang....
Porong, 20 Februari
2009, ketika segerombolan remaja menggunakan celana ketat ber-emblem, jaket
spike, sepatu boot dan kaos band lokal ramai di sebuah acara musik, sekelumit
memori masa lalu mulai menghampiri. Mulai dari “beat the bastard...beat them
now!” nya the exploited hingga “police shit walking in the street make chaos
just for fun..shoot stupid bastard!” nya turtles.jr selalu terdengar di tape
kesayangan. Dari rambut corrosion hingga bercat merah, dari piercing hingga
tergeletak dengan muntah di samping. Pernah suatu saat saya ditanya oleh
seorang skinhead yang menggenakan kaos “love music hate politic” ketika saya
nongkrong di dua komunitas, komunitas tempat dia biasa nongkrong dan komunitas
lainnya, “lu mu nongkrongnya dimana sih, disini atau disana” dengan nada agak
kesal (kira-kira begitulah!!). ‘sial!! bahkan untuk bisa berada di tempat yang
saya sukai menjadi suatu masalah bagi orang lain!!!’.
Beberapa bulan yang
lalu seorang teman datang ke rumah membawa satu linting ganja, sempat menawari
walaupun dia tahu saya tidak lagi menyukai ganja. Saat tahun terakhir sekolah
menengah pertama hingga awal perkuliahan ganja adalah sebuah obat dari
kekecewaan atas apa yang menjadi tengah saya hadapi. Pulang ke rumah dengan
keadaan tidak sadarkan diri, uang jajan yang selalu habis digunakan untuk
membeli satu amplop ganja. Entah faktor apa selain paranoia akut yang
menyebabkan saya saat ini tidak lagi menyukainya, sama halnya dengan
shabu-shabu, selain faktor tambahan (finansial) yang tidak lagi mendukung saya
untuk secara sengaja membelinya.
Seorang teman
perempuan pernah menanyakan kapan pertama kali saya melakukan hubungan sex, dan
saya pun menjawabnya tanpa merasa malu, “kelas satu SMA”.
“terus lu udah
ngelakuin hubungan sex sama berapa cewe?”
“sekitar sepuluh
lebih lah...”
“paraaah lu!!”
Saya tidak
menganggap hal tersebut separah apa yang dia bayangkan, bahkan saya merasa
biasa saja. Dari satu rumah bordir ke rumah bordir lain, bahkan sempat memiliki
hubungan singkat dengan seorang perempuan yang biasa mangkal di dekat rumah
bordir, saat itu posisi saya bukanlah sebagai seorang konsumen baginya. Mungkin
hal ini cukup mengerikan bagi perempuan yang tengah dekat dengan saya, tapi
itulah kenyataannya, dan saya memang tidak terlalu mempermasalahkan seperti apa
latar belakang perempuan yang sedang saya dekati.
“kasian amat ya
yang bakalan jadi cewe lu...”
Saya hanya
tersenyum mendengar kata-katanya, dan pikiran saya langsung tertuju pada apa
yang kemungkinan besar ada di pikirannya. Mungkin dia menganggap saya pasti
akan melakukan hubungan sex dengan kekasih saya, biarlah, saya pikir wajar
kalau memang dia berpikiran seperti itu. Dan dia memang tidak percaya ketika
saya pernah bercerita bahwa saya pernah meninggalkan seorang perempuan yang sedang
saya dekati karena saya merasa perempuan itu tidak dapat mencegah saya untuk tidak
melakukan hubungan sex dengannya. Karena saya telah terlalu bosan dengan hal
itu, dan saya tidak mau kebosanan itu semakin menjadi.
Malang, 19 Februari
2009, hujan rintik membasahi. Saya terlelap siang itu, dan bermimpi cukup aneh,
latar hitam pekat dengan tulisan “I miss you” berwarna putih terang, dan mimpi
itu terus seperti itu hingga saya terbangun. Entah siapa yang merindukan saya
atau saya memang tengah merindukan seseorang dari masa lalu yang beberapa waktu
kemarin sempat kembali hadir, kami menjalin sebuah lembaran baru hingga lembaran
itu terkoyak oleh ketidakdewasaan kami untuk saling mengerti kondisi satu sama
lain.
Beberapa hari menjelang
valentine, dimana lambang hati dan semerbak aroma cinta bertebaran bahkan
hingga ke sebuah ruang tunggu praktek dokter gigi, dari para pelajar hingga
artis kawakan mulai menoreh-noreh catatan pada kertas khayal mereka, merencanakan
apa yang hendak dilakukan pada hari itu, tepat malam di malam minggu. Beberapa
tahun lalu bahkan saya sempat membuatnya menangis di hari valentine, adalah
pada saat kami menjadi bagian dari mereka yang menggunakan hari tersebut hari
spesial.
Realitas memberikan keleluasaan
bagi saya untuk dikuasai oleh spektrum yang dikemudian melahirkan sikap
inferior. Saya melihat trauma yang sangat sulit untuk dihapuskan begitu saja,
seperti ketika menempatkan sebuah buku harian kecil di dalam lemari yang
terkunci lalu membuang kunci itu, bukan malah membakarnya.
Beberapa hari yang lalu, saya
duduk bersamanya di sebuah kursi di depan teras kamar sewanya. Kepadatan dan
sesak udara ibukota selalu saja membuat saya merasa tidak terlalu betah berada
disana untuk waktu yang begitu lama. Namun tidak untuk malam itu, kami
berbincang panjang lebar, membakar segala bentuk keterbatasan dalam
menyampaikan apa yang dirasakan, dan membuat saya melupakan rasa ketidakbetahan
ketika berada di ibukota.
‘Kerja memang menyebalkan, dan
seperti dikebiri’, begitulah kira-kira apa yang teman semasa kecil saya
sampaikan melalui layanan pesan singkat kemarin malam. Saya hanya bisa
tersenyum membacanya, dan saya membalas pesan itu dengan beberapa rangkaian
kata penyemangat. Kira-kira sama seperti apa yang tengah dirasakan oleh dia
beberapa waktu lalu, pekerjaan yang begitu bertumpuk sehingga harus membuatnya
bekerja lebih dari delapan jam kerja. Belum lagi suasana tidak kondusif di
dalam kantornya pra-penutupan kantornya, dan kini harus berada dalam mimpi
buruk kejelasan status masa kerja yang hanya tiga bulan, jobless, ibukota dan
seorang diri. Ya, dia tengah berada dalam kegalauan…
Dan saya masih bergelut dengan
skripsi yang tidak menentu, di sebuah kampus yang terlihat megah dan bertingkat,
yang hanya mengutamakan pelunasan uang semester dibandingkan pelayanan terhadap
mahasiswanya. Deadline tahun ini saya harus sesegera mungkin menyelesaikan
waktu saya di perkuliahan. Wisuda yang hanya satu tahun sekali, di bulan
agustus, dan hingga kini bahkan saya belum mendapatkan seorang dosen
pembimbing. Dosen pembimbing secara tidak disadari hanyalah menuntun saya pada
pola pikirnya dan bahkan dengan angkuhnya saya dapat mengatakan tanpa dosen
pembimbing saya bisa menyelesaikannya! Setelah menyelesaikannya saya akan
berada ditahapan dimana saya harus bekerja, saya hanya ingin sesegera mungkin
menyelesaikan semuanya, agar semua jawaban-jawaban menempatkan posisinya pada
setiap pertanyaan-pertanyaan alam bawah sadar saya mengenai hari esok. Ya, saya
pun tengah berada dalam kegalauan permanen atas pertanyaan-pertanyaan itu…
Malam tadi saya harus kehilangan
seseorang yang sangat berarti bagi hidup saya, reaksi spontan dari emosi yang
tidak dapat dikendalikan. Saya hanya merasa lelah berada pada keadaan seperti
ini, ketika saya masih terus mempedulikan seseorang yang tidak lagi peduli, dan
sialnya hal itu justru menjadi sebuah mata rantai yang menempatkan saya berada
pada sebuah labirin. Dan apa yang telah saya lakukan tadi malam hanya menambah
kegalauannya. Seperti Oedipus yang meninggalkan kekacauan di kotanya menuju
tempat yang tidak diketahui dengan mata yang buta, berhentilah menilai segala
sesuatu dengan menempatkannya pada dua hal, benar dan salah!! Namun saat ini
saya lebih merasa tidak tepat melakukan seperti apa yang telah malam tadi saya
lakukan. Masih terbayang bagaimana suaranya yang serak akibat radang
tenggorokan menjadi lebih berat akibat tangisannya dan tentu saja menambah beban
pikirannya.
Perasaan yang telah melekat
selama enam tahun berserakan menjadi partikel-partikel kecil yang berterbangan,
yang selama ini hanyalah sebuah implosi, namun kini benar-benar eksplosif pada
satu ruang dimana saya menempatkannya selama beberapa tahun. Nadjar yang pernah
kami ucapkan hanyalah menjadi sebuah massa
yang ringan, saya yang selama ini selalu menjadi tempatnya bersandar bahkan
telah mengutuk keberadaannya di ruang dimana dia menempatakannya. Kemungkinan
terkecil saat ini adalah sesegera mungkin menempatkan kemungkinan tersebut
dalam ruang ketidakmungkinan, sehingga oposisi biner tidak lagi dilihat sebagai
dua buah objek yang saling bertentangan dan salah satunya diantaranya keluar menjadi
hasil akhir yang merepresentasikan bagaimana upaya mekanik prosesi kemenjadian.
Karena memang kemungkinan tersebut telah masuk kedalam etalase dimana tidak
lagi terdapat ambiguitas di dalamnya, karena telah bersifat pasti, tidak! Namun
bukannkah saya telah melakukannya beberapa waktu yang lalu dan hal tersebut
selalu saja menegasikan dirinya sendiri, atau mungkin hal itu terjadi karena
reaksi atas pijar-pijar percikan api yang memberikan sedikit terang dari batu
yang saling bergesekan akibat dari pergerakan alamiah? Entahlah….
Entahlah…(*dan saya harus
mengulangi lagi kata itu!) bahkan kini saya pun merasakan sebuah penyesalan
dengan apa yang telah saya lakukan. Tidak seharusnya seperti ini, tidak lagi
harus mengulangi kejadiaan yang sama seperti beberapa tahun lalu, dan ketika saya
menjilati kembali ludah yang telah bercampur dengan tanah itu adalah posisi
dimana saya harus menempatkan kembali diri saya ke sebuah meja perjudian.
Namun, judi bukanlah hanya sekedar permainan dengan tanpa analisa dan
peruntungan belaka…dan dengan begitu pula tidak harus merasa saling kehilangan
satu sama lain seperti beberapa waktu lalu dan nadjar itu kembali menjadi massa
padat dan berat…
Kemacetan lalu lintas, polusi
udara, kebisingan suara kendaraan bermotor, debu, dan kendaraan-kendaraan
pejabat yang dikawal oleh sejumlah aparat yang dengan seenaknya melesat bebas
tanpa hambatan. Setelah kepindahanku ke rumah yang baru bersama ibuku hal-hal
tersebut membangkitkan emosiku dijalanan, bagaimana tidak jarak yang cukup jauh
menuju tempat beraktivitas menyajikanku gambaran nyata mengenai keadaan
sepanjang jalan dari rumah menuju kampus. Mulai dari jalan sempit dengan tidak
sesuainya volume kendaraan yang melintasinya, belum lagi kendaraan-kendaraan
besar yang semakin menambah kompleksitas penyebab kemacetan di jalan yang aku
lalui. Lelah ketika aku harus berbicara mengenai angkutan kota yang
memprioritaskan untuk mendapatkan penumpang, sehingga laju kecepatan dan aksi berhenti
seenaknya untuk menaikkan atau menurunkan penumpang menurutku wajar bagi mereka
melihat keadaan ekonomi-lah yang membuat hal seperti itu terjadi. Sedangkan
kendaraan-kendaraan besar yang melalui jalan yang biasa kulalui memang sudah
seharusnya melintas, toh memang tidak ada jalan lain selain melalui jalan
tersebut, karena memang di sepanjang jalan terdapat banyak pabrik-pabrik yang
menggunakan jasa kendaraan-kendaraan besar untuk mengangkut barang. Dulu ketika
aku pernah menggunakan knalpot dengan suara bising, temanku pernah mengeluhkan
suaranya kepadaku, dan sekarang aku merasakan hal yang sama seperti apa yang
pernah temanku keluhkan setelah menggantinya karena harus berurusan dengan
polisi. Dan kendaraan-kendaraan pejabat yang dikawal oleh aparat selalu saja
tidak pernah mau merasakan kemacetan seperti yang aku rasakan, seperti para
supir angkot, seperti ibu-ibu tua yang kepanasan penuh keringat dengan
menggenggam uang pas untuk membayar ongkos, seperti anak-anak sekolah yang
sudah sangat lapar ingin cepat berada dirumah, seperti sepasang ABG yang mulai
berkeringat sehingga memudarkan wangi parfum yang disemprotkan ketika di rumah,
seperti para anak muda dalam mobil ber-AC yang menikmati kesejukkan dan
menunggu kemacetan sambil mendengarkan musik, ataupun seperti mereka–pengguna
jalan–yang terjebak kemacetan serupa namun diburu oleh waktu. Damn!!!
Entah mengapa malam ini aku teringat akan seseorang yang pernah hadir dalam hidupku beberapa waktu yang lalu, satu tahun lalu terakhir aku mendengar suaranya. Berkali-kali aku menghubunginya, bahkan nomor rumahnya tidak lagi bisa dihubungi. Aku memang tidak pernah bisa mendatangi rumahnya, karena memang ada hal-hal yang membuatnya tidak mengijinkanku untuk itu yang tidak bisa aku bagi disini dan aku sangat menghargai hal itu. Saat berada di kelas satu SMA aku mulai mengenalnya sebagai seorang vokalis band punk yang cukup terkenal saat itu di kota kelahiranku. Darinya aku mendapatkan banyak hal, terutama tentang jalan hidupnya dan bagaimana dia dengan sangat besar hati menjalaninya. Tentang bagaimana membiayai kebutuhan anak tunggalnya sebagai seorang single parent, bekerja sebagai guru SMP sambil kuliah dan sesekali bekerja lepas sebagai seorang pembawa acara dan pengajar les privat.
Dia selalu menghadiahiku dengan canda dan tawa ketika kami bertemu, dan tidak pernah menunjukkan kesedihannya ketika tengah menceritakan tentang hidupnya. Berbagai sinis mengenainya dari orang-orang yang mengenal kami selalu saja menyerang, bahkan aku pernah ditanya oleh seseorang yang aku kenal mengenai kedekatanku dengannya yang berstatus pernah menikah, dan aku tidak malu untuk mengakuinya bahwa kami memang sangat dekat, begitu pula dengannya yang tidak pernah peduli atas penilaian orang terhadapnya.
"Ngasih makan anak gue juga engga, kenapa juga gue harus peduli ama omongan mereka", kata-kata saktinya selalu saja membuatku tersenyum.
Tanpa pernah mempedulikan apa yang orang ramai bicarakan mengenainya, dia memberikanku sesuatu yang berbeda untuk hidupku. Menjadi seseorang yang merawatku ketika sayapku terluka hingga aku dapat terbang kembali, dia selalu ada ketika aku membutuhkannya, memberikan kesejukkan ketika jiwaku mulai terbakar oleh api-api kekecewaan. Dia pernah tak henti-hentinya mencegahku untuk mengakhiri hidup, nekat untuk menemuiku saat itu, memaki kobodohan yang hendak aku lakukan dan berjanji akan menamparku ketika kami bertemu. Namun janji itu tidak pernah terpenuhi, beberapa hari setelah kejadian itu, setelah dia memastikan bahwa aku masih bernafas, dia menghilang begitu saja...entah apa yang membuatnya memutuskan hal tersebut, namun apapun hal itu, aku tetap menghormati keputusannya, dan dia tidak menghilang dengan tanpa memberikan sesuatu, sesuatu yang sangat berharga bagiku. Tentang bagaimana dia dengan tegar dan penuh keceriaan menjalani kehidupannya, membesarkan anak lelakinya 'Tama' seorang diri tanpa mengharapkan bantuan dari ayah anaknya yang meninggalkan mereka begitu saja.
Seorang wanita yang sangat kuat dan menyenangkan, dengan wajah yang seputih awan dan mata yang selalu genit menggodaku, tangan mulusnya yang pernah memelukku dari belakang ketika kami berboncengan di bawah guyuran hujan. Entah apa yang tengah terjadi dengannya saat ini, bagaimana kabar anaknya, kehidupannya, atau bahkan kini dia telah bersama seseorang yang dapat menerima dia dan anaknya. Semoga dia kini tengah berada dalam apa yang pernah dia harapkan. Seorang sahabat yang saat ini sangat aku rindukan kehadirannya untuk berbagi keceriaan...
Telah tergambarkan dalam beberapa bulan ke depan aktivitas di depan komputer akan menjadi sebuah rutinitas di setiap hari, buku-buku berserakan, lembar demi lembar kertas printa-an yang dipenuhi oleh coretan berhamburan, tubuh yang mulai merapuh dan mata yang bengkak kurang tidur. Dan setelahnya, kesibukan-kesibukan mencari informasi lowongan pekerjaan, pergi ke satu kantor lalu ke kantor lain untuk mengajukan surat lamaran pekerjaan, belum lagi tekanan dari orang tua untuk sesegera mungkin mencari pekerjaan dan tentunya keterbatasan untuk bermain karena uang saku yang telah dihentikan. Delapan belas tahun sudah diproduksi yang dalam beberapa bulan atau tahun kedepan akan berada di pasaran menjadi sebuah komoditas. Hanya sebatas lima tahun menikmati puasnya rasa bermain, dan itu pun tidak pure lima tahun. Sekolah, kuliah, bekerja, menikah, dan mati...
Selamat datang aku ucapkan kepada bayi-bayi yang lahir saat ini, nikmatilah hari-hari sebelum resmi berada pada sebuah pabrik pembuatan produk masa depan. Matahari pagi masih terlalu indah untuk dihabiskan dengan rasa takut akan bell masuk sekolah, malam masih terlalu indah untuk dihabiskan dengan bergumul pada kekhawatiran akan hukuman atas absen dalam pekerjaan rumah. Kebebasan bukan hanya di hari minggu, namun di setiap harinya, dan libur bukan hanya ketika telah menerima hasil laporan semester. Selamat datang di perguruan tinggi, dimana biaya semakin mahal dan pemilik saham perguruan tinggi akan menjadi semakin kaya. Dimana produk-produk harapan diciptakan sedemikian rupa untuk menjadi produk yang benar-benar diharapkan oleh pasar.
Dan aku akan bekerja, menikah, punya anak, tua dan mati...Tamat kuliah dengan hasil yang memuaskan sehingga dapat menjadi komoditas yang mampu bersaing dipasaran. Menikah dengan orang yang dicintai, berada dalam aturan-aturan baku pernikahan, memiliki anak, bekerja lebih giat agar mampu memberi makan anak dan istri, belum lagi ketika kelak anak-anakku sekolah ataupun kuliah. Kerja, istirahat, tidur, kerja, istirahat, tidur, terus demikian hingga nanti telah menjadi usang dimakan sang waktu, menjadi sebuah produk yang lebih layak disimpan dalam lemari, menunggu waktu untuk terurai kembali menjadi tanah... hah!hidup macam apa ini??? Semoga cinta ini masih menggerakkan kakiku untuk berjalan di atas kehidupan semacam ini...